Komunikasi Non-Verbal

jejak bahasa tubuh purba yang masih kita gunakan saat ini

Komunikasi Non-Verbal
I

Pernahkah kita tanpa sadar menaikkan alis mata selama sepersekian detik saat berpapasan dengan kenalan lama di jalan? Atau, pernahkah teman-teman refleks mengusap belakang leher saat ditanya pertanyaan sulit oleh atasan dalam sebuah rapat? Kita mungkin mengira gerakan-gerakan kecil itu hanyalah kebiasaan acak. Sesuatu yang kita lakukan tanpa alasan. Namun, sains dan sejarah bercerita lain. Setiap kali tubuh kita bergerak tanpa kita suruh, kita sebenarnya sedang memutar ulang sebuah kaset rekaman yang usianya sudah ratusan ribu tahun. Saya sering takjub memikirkan ini. Di balik pakaian rapi dan gawai canggih yang kita pegang, tubuh kita diam-diam masih fasih berbicara dalam bahasa manusia gua.

II

Kita sering merasa bahwa kita adalah makhluk yang sangat logis dan modern. Kita belajar bahasa asing, merangkai kalimat puitis, dan berdebat menggunakan data. Tapi, tahukah teman-teman bahwa kata-kata verbal yang keluar dari mulut kita sebenarnya adalah teknologi yang relatif baru dalam sejarah evolusi manusia? Jauh sebelum pita suara kita mampu merangkai kata demi kata, leluhur kita harus bisa berkomunikasi dalam keheningan yang mencekam. Di padang sabana purba, salah membaca niat orang asing bisa berarti kematian. Berteriak bisa mengundang predator. Jadi, bagaimana mereka bertahan hidup? Mereka mengandalkan tubuh. Gerakan mata, postur bahu, dan posisi tangan menjadi kosakata utama. Menariknya, insting bertahan hidup ini tidak pernah benar-benar hilang dari DNA kita. Ia hanya tertidur, dan sering kali bangun di momen-momen yang paling tidak kita sadari.

III

Mari kita amati lebih dekat kehidupan sehari-hari kita. Kenapa saat kita merasa terancam atau tidak nyaman secara sosial, kita sering menyilangkan lengan di depan dada? Kenapa saat kita terkejut atau ketakutan, bahu kita otomatis terangkat naik mendekati telinga? Dan yang paling aneh, kenapa saat kita merasa gugup atau cemas, tangan kita sering kali secara otomatis menyentuh lekukan leher, mengelus kerah baju, atau meraba kalung? Seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang menarik tangan kita ke area tersebut. Jika kita memikirkannya secara kritis, gerakan ini sama sekali tidak rasional. Menyentuh leher tidak akan memberikan kita jawaban untuk pertanyaan sulit dari atasan. Lalu, misteri apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh tubuh kita ini?

IV

Jawabannya terletak pada perangkat keras yang ada di dalam tengkorak kita, tepatnya pada sistem limbik (limbic system). Ini adalah pusat emosi dan alarm kejujuran mutlak di otak kita. Sistem limbik ini sudah ada jauh sebelum bagian otak logis kita, atau neocortex, berkembang sempurna. Sistem limbik tidak peduli dengan sopan santun kantor atau gengsi; ia hanya peduli pada satu hal: bertahan hidup.

Saat kita menyilangkan tangan di dada, sistem limbik sedang memerintahkan tubuh untuk melindungi organ-organ vital di batang tubuh dari potensi "serangan". Saat bahu kita naik mendekati telinga, itu adalah manuver purba yang disebut turtle effect, tujuannya untuk melindungi pembuluh darah besar di leher dari gigitan predator. Lalu, bagaimana dengan kebiasaan mengusap leher saat gugup? Leher adalah letak arteri karotis (carotid artery), titik paling rentan bagi manusia. Mengusap area tersebut adalah apa yang dalam psikologi evolusioner disebut sebagai pacifying behavior atau perilaku menenangkan diri. Otak purba kita mengirimkan sinyal taktil ke leher untuk menurunkan detak jantung dan meyakinkan diri bahwa kita aman dari terkaman binatang buas, meskipun "binatang buas" itu nyatanya hanyalah tumpukan deadline atau pertanyaan dari klien. Begitu pula dengan gerakan menaikkan alis atau eyebrow flash. Di zaman batu, itu adalah sinyal jarak jauh yang menunjukkan mata kita terbuka lebar dan tidak menyembunyikan niat buruk. Ini cara purba untuk berkata, "Saya teman, bukan ancaman."

V

Memahami jejak evolusi dalam bahasa tubuh ini bukan sekadar trik psikologi untuk membaca pikiran orang lain. Bagi saya pribadi, wawasan ini justru menjadi jendela menuju empati yang lebih dalam. Saat kita melihat lawan bicara kita menyilangkan lengan atau mengusap lehernya, alih-alih menghakiminya sebagai orang yang tertutup atau tidak kompeten, kita bisa menyadari satu fakta yang sangat manusiawi. Kita sedang melihat sesama manusia yang otak purbanya sedang merasa sedikit tidak aman, dan tubuhnya sedang berusaha menenangkan diri.

Pada akhirnya, di balik semua gelar, jabatan, dan modernitas yang kita banggakan, kita semua hanyalah sekumpulan manusia purba yang kebetulan sedang duduk di kedai kopi. Kita semua pada dasarnya hanya ingin merasa aman dan diterima oleh kawanannya. Dan terkadang, menyadari hal sederhana ini sudah cukup untuk membuat kita menjadi sedikit lebih sabar, dan sedikit lebih baik kepada satu sama lain.